Selamat datang di Blog Segudang Informasi(Warung Informasi),silahkan nikmati informasi yang di berikan...

Minggu, 06 Februari 2011

Budidaya cabai merah

Secara umum cabai merah dapat di tanam di lahan basah (sawah) dan lahan
kering ( tegalan) dan dapat dibudidayakan di saat musim hujan dan kering. Cabai merah dapat tumbuh dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian sampai 900 m dari permukaan laut, tanah kaya akan bahan organik dengan pH 6 - 7, tektur tanah remah. Di kawasan trasmigrasi lahan kering pada umumnya jenis tanah banyak didominasi oleh tanah pozolik merah kuning. Jenis tanah ini dengan beberapa keterbatasannya dapatuntuk budidaya tanaman cabe merah dengan beberapa perlakuan tertentu, misalnya padalubang tanam perlu diberi pupuk kandang yang bebas dari bakteri dan sumber penyakit.
Pupuk kandang yang baik untuk pemupukan adalah kotoran ayam kampung, kemudiankotoran kambing, dan kerbau atau sapi.


Di Indonesia cabe merah sudah dikembangkan sebagai tanaman perdagangan
dosmestik, dan diusahakan secara intensif di beberapa daerah sentra produksi baik di
Pulau Jawa maupun luar Jawa. Produksi cabe merah tahun 1998 dapat mencapai
452,990 ton terdiri dari 287.576 ton di P. Jawa dan 165.414 ton hasil dari luar Jawa.
Daerah sentral produkasi di luar Jawa seperti D.I Aceh, Jambi, Sumatera Selatan,
Bengkulu, Lampung dan Bali. Sedang di luar daerah tersebut tanaman cabe merah
dibudidayakan hanya sekedar permintaan pasar lokal (pasar kecamatan).
Di Provinsi Kalimantan Selatan cabe merah dibudidayakan belum intensif dan
hanya untuk kebutuhan pasar lokal, namun jika dilihat dari potensi lahan dan permintaan
pasar ternyata cukup baik untuk dikembangkan. Hal ini terlihat di daerah Kabupaten
Tanah Laut, Kandangan, dan Marabahan cukup banyak petani yang membudidayakan
tananamn cabe (cabe merah, cabe rawit).Tetapi karena cuaca sulit diprediksi dimana
musim hujan datangnya lebih awal atau mundur sehingga dapat dikatakan musim hujan
datangnya tidak menentu, sebagai contoh tanamam baru berumur 1 - 2 minggu terjadi
turun hujan sehingga tanaman mengalami layu karena busuk akar dan kemudian disaat
musim panen turun hujan deras akibatnya petani mengalami kegagagan panen.
Pada umumnya disaat musim hujan stok produksi cabe merah sangat kecil, sedang
permintaan pasar cukup tinggi, hal ini menyebabkan harga melambung tinggi. Kasus
tahun 1998 harga cabe merah di kota Banjarmasin mencapai Rp 60.000,- per kg pada
tingkat pasar tradisional, oleh karena itu untuk menstabilkan stok produksi dimusim hujan,
diperlukan budidaya cabe merah di musim hujan. Salah satu teknologi budidaya cabe di
musim hujan adalah teknologi mulsa plastik dan ajir.
Budidaya cabe merah di kawasan transmigrasi Kecamatan Jorong umumnya
masih dilakukan disaat musim kering dan hanya untuk kebutuhan rumah tangga dan
sebagian kecil yang dijual kepasaran jika ada lelebihan produksi. Untuk menstabilkan
harga dan jumlah produksi di saat musim hujan, maka diperlukan terobosan teknologi
tepat guna dan mudah diterapkan oleh petani umumnya. Pada tahun 1998, Jalda
berkerjasama dengan Stasiun Litbang Transmigrasi yang berkedudukan di Kecamatan
Jorong Kabupaten Tanah Laut melakukan ujicoba budidaya cabe merah di musim hujan
dengan teknologi mulsa dan ajir.
Secara umum cabai merah dapat di tanam di lahan basah (sawah) dan lahan
kering ( tegalan) dan dapat dibudidayakan di saat musim hujan dan kering. Cabai merah
dapat tumbuh dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian sampai 900 m dari
permukaan laut, tanah kaya akan bahan organik dengan pH 6 - 7, tektur tanah remah. Di
kawasan trasmigrasi lahan kering pada umumnya jenis tanah banyak didominasi oleh
tanah pozolik merah kuning. Jenis tanah ini dengan beberapa keterbatasannya dapat
untuk budidaya tanaman cabe merah dengan beberapa perlakuan tertentu, misalnya pada
lubang tanam perlu diberi pupuk kandang yang bebas dari bakteri dan sumber penyakit.
Pupuk kandang yang baik untuk pemupukan adalah kotoran ayam kampung, kemudian
kotoran kambing, dan kerbau atau sapi.

Di Indonesia cabe merah sudah dikembangkan sebagai tanaman perdagangan
dosmestik, dan diusahakan secara intensif di beberapa daerah sentra produksi baik di
Pulau Jawa maupun luar Jawa. Produksi cabe merah tahun 1998 dapat mencapai
452,990 ton terdiri dari 287.576 ton di P. Jawa dan 165.414 ton hasil dari luar Jawa.
Daerah sentral produkasi di luar Jawa seperti D.I Aceh, Jambi, Sumatera Selatan,
Bengkulu, Lampung dan Bali. Sedang di luar daerah tersebut tanaman cabe merah
dibudidayakan hanya sekedar permintaan pasar lokal (pasar kecamatan).
Di Provinsi Kalimantan Selatan cabe merah dibudidayakan belum intensif dan
hanya untuk kebutuhan pasar lokal, namun jika dilihat dari potensi lahan dan permintaan
pasar ternyata cukup baik untuk dikembangkan. Hal ini terlihat di daerah Kabupaten
Tanah Laut, Kandangan, dan Marabahan cukup banyak petani yang membudidayakan
tananamn cabe (cabe merah, cabe rawit).Tetapi karena cuaca sulit diprediksi dimana
musim hujan datangnya lebih awal atau mundur sehingga dapat dikatakan musim hujan
datangnya tidak menentu, sebagai contoh tanamam baru berumur 1 - 2 minggu terjadi
turun hujan sehingga tanaman mengalami layu karena busuk akar dan kemudian disaat
musim panen turun hujan deras akibatnya petani mengalami kegagagan panen.
Pada umumnya disaat musim hujan stok produksi cabe merah sangat kecil, sedang
permintaan pasar cukup tinggi, hal ini menyebabkan harga melambung tinggi. Kasus
tahun 1998 harga cabe merah di kota Banjarmasin mencapai Rp 60.000,- per kg pada
tingkat pasar tradisional, oleh karena itu untuk menstabilkan stok produksi dimusim hujan,
diperlukan budidaya cabe merah di musim hujan. Salah satu teknologi budidaya cabe di
musim hujan adalah teknologi mulsa plastik dan ajir.
Budidaya cabe merah di kawasan transmigrasi Kecamatan Jorong umumnya
masih dilakukan disaat musim kering dan hanya untuk kebutuhan rumah tangga dan
sebagian kecil yang dijual kepasaran jika ada lelebihan produksi. Untuk menstabilkan
harga dan jumlah produksi di saat musim hujan, maka diperlukan terobosan teknologi
tepat guna dan mudah diterapkan oleh petani umumnya. Pada tahun 1998, Jalda
berkerjasama dengan Stasiun Litbang Transmigrasi yang berkedudukan di Kecamatan
Jorong Kabupaten Tanah Laut melakukan ujicoba budidaya cabe merah di musim hujan
dengan teknologi mulsa dan ajir.
Secara umum cabai merah dapat di tanam di lahan basah (sawah) dan lahan
kering ( tegalan) dan dapat dibudidayakan di saat musim hujan dan kering. Cabai merah
dapat tumbuh dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian sampai 900 m dari
permukaan laut, tanah kaya akan bahan organik dengan pH 6 - 7, tektur tanah remah. Di
kawasan trasmigrasi lahan kering pada umumnya jenis tanah banyak didominasi oleh
tanah pozolik merah kuning. Jenis tanah ini dengan beberapa keterbatasannya dapat
untuk budidaya tanaman cabe merah dengan beberapa perlakuan tertentu, misalnya pada
lubang tanam perlu diberi pupuk kandang yang bebas dari bakteri dan sumber penyakit.
Pupuk kandang yang baik untuk pemupukan adalah kotoran ayam kampung, kemudian
kotoran kambing, dan kerbau atau sapi. 

Di Indonesia cabe merah sudah dikembangkan sebagai tanaman perdagangan
dosmestik, dan diusahakan secara intensif di beberapa daerah sentra produksi baik di
Pulau Jawa maupun luar Jawa. Produksi cabe merah tahun 1998 dapat mencapai
452,990 ton terdiri dari 287.576 ton di P. Jawa dan 165.414 ton hasil dari luar Jawa.
Daerah sentral produkasi di luar Jawa seperti D.I Aceh, Jambi, Sumatera Selatan,
Bengkulu, Lampung dan Bali. Sedang di luar daerah tersebut tanaman cabe merah
dibudidayakan hanya sekedar permintaan pasar lokal (pasar kecamatan).
Di Provinsi Kalimantan Selatan cabe merah dibudidayakan belum intensif dan
hanya untuk kebutuhan pasar lokal, namun jika dilihat dari potensi lahan dan permintaan
pasar ternyata cukup baik untuk dikembangkan. Hal ini terlihat di daerah Kabupaten
Tanah Laut, Kandangan, dan Marabahan cukup banyak petani yang membudidayakan
tananamn cabe (cabe merah, cabe rawit).Tetapi karena cuaca sulit diprediksi dimana
musim hujan datangnya lebih awal atau mundur sehingga dapat dikatakan musim hujan
datangnya tidak menentu, sebagai contoh tanamam baru berumur 1 - 2 minggu terjadi
turun hujan sehingga tanaman mengalami layu karena busuk akar dan kemudian disaat
musim panen turun hujan deras akibatnya petani mengalami kegagagan panen.
Pada umumnya disaat musim hujan stok produksi cabe merah sangat kecil, sedang
permintaan pasar cukup tinggi, hal ini menyebabkan harga melambung tinggi. Kasus
tahun 1998 harga cabe merah di kota Banjarmasin mencapai Rp 60.000,- per kg pada
tingkat pasar tradisional, oleh karena itu untuk menstabilkan stok produksi dimusim hujan,
diperlukan budidaya cabe merah di musim hujan. Salah satu teknologi budidaya cabe di
musim hujan adalah teknologi mulsa plastik dan ajir.
Budidaya cabe merah di kawasan transmigrasi Kecamatan Jorong umumnya
masih dilakukan disaat musim kering dan hanya untuk kebutuhan rumah tangga dan
sebagian kecil yang dijual kepasaran jika ada lelebihan produksi. Untuk menstabilkan
harga dan jumlah produksi di saat musim hujan, maka diperlukan terobosan teknologi
tepat guna dan mudah diterapkan oleh petani umumnya. Pada tahun 1998, Jalda
berkerjasama dengan Stasiun Litbang Transmigrasi yang berkedudukan di Kecamatan
Jorong Kabupaten Tanah Laut melakukan ujicoba budidaya cabe merah di musim hujan
dengan teknologi mulsa dan ajir. 

sumber google.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Obrolan kita